Kamis, 24 Maret 2011

Makalah ASNEO


BAB I

PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang

Beberapa mikroorganisme tertentu dapat menyebabkan janin menderita infeksi dan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan janin. Kadang-kadang infeksi janin ini tidak berhubungan dengan berat ringannya penyakit infeksi si ibu. Infeksi pada neonatus merupakan sebab yang penting terhadap terjadinya morbiditas dan mortalitas selama periode ini. Lebih kurang 2% janin dapat terinfeksi in utero dan 10% bayi baru lahir terinfeksi selama persalinan atau dalam bulan pertama kehidupan. Para peneliti menemukan tanda inflamasi pada kira-kira 25% kasus autopsi, selain ini merupakan penyebab kedua terbanayak setelah penyakit membran hialin.

1.2     Tujuan Umum

1.      Untuk mengetahui pengertian infeksi

2.      Untuk mengetahui gejala infeksi

3.      Untuk mengetahui patofisiologi infeksi

4.      Untuk mengetahui cara penanganan infeksi

5.      Untuk menambah wawasan bagi para pembaca

1.3     Tujuan Khusus

Untuk memenuhi tugas Asuhan Neonatus, Bayi dan Anak Balita

 BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Infeksi
Menurut kamus kedokteran, infeksi merupakan penembusan dan penggandaan di dalam tubuh dari organisme yang hidup ganas seperi bakteri, virus, dan jamur.
Infeksi adalah kolonisasi yang dilakukan oleh spesies asing terhadap organisme inang, dan bersifat membahayakan inang. (Wikipedia bahasa Indonesia).
Sedangkan infeksi perinatal yaitu infeksi pada neonatus yang terjadi pada masa prenatal, antenatal, intranatal dan postnatal. Infeksi pada neonatus lebih sering ditemukan pada bayi baru lahir dan pada bayi yang lahir dirumah sakit.
2.2 Macam-macam infeksi pada neonatus
Macam-macam infeksi pada neonatus dintaranya adalah :
a.       Tetanus neonatorum
Merupakan penyakit infeksi pada neonatus yang sering menyebakan kematian disebabkan oleh kuman tetanus yang memasuki tubuh melalui luka. Penyakit ini disertai dengan kekejangan otot yang berat.
b.   CMV (Citomegali Viruses)
Biasanya gejalanya ringan atau sama sekali tidak ada gejala. Pada infeksi yang telah lengkap terdapat ikterus, lesimakulopapular, generalisata disertai purpura atau petekie.
c.   Virus herpes simplex
Biasanya infeksi herpes simpleks pada neonatus merupakan infeksi herpes tipe II, diduga penularan lewat jalan lahir pada saat persalinan. Bayi mulai sakit pada hari ke 4 disertai erupsi vesicular luar yang juga mengenai mata dan mukosa mulut. Bila bayi hidup biasanya terdapat gejala sisa berupa kelainan neurologik.
2.3 Gejala Infeksi
a.                   Bayi malas minum
b.      Gelisah mungkin juga dapat menjadi letargi
c.       Frekuensi pernapasan meningkat
d.      Berat badan menurun
e.       Pergerakan kurang
f.       Muntah
g.      Diare
h.      Sklerema, oedema
i.        Perdarahan, ikterus, kejang, suhu meningkat yaitu lebih dari 38,5oC.
j.        Hipotermi dan hipertermi
Pembagian Infeksi Perinatal:
1.      Infeksi berat, termasuk sepsis neonatorum, meningitis, pneumonia, diare epidemik, pielonefritis, osteitis akut dan tetanus neonatorum.
2.      Infeksi ringan, terdiri dari infeksi pada kulit, oftalmia neonatorum, infeksi umbilicus (epifalitis) dan monoliasis. Faktor-faktor utama berperan dalam terjadinya infeksi dan menentukan beratnya infeksi pada neonatus. Hal tersebut menekankan pentingnya diagnosis dini yang tepat serta pengobatan yang memadai. Faktor tersebut adalah :
a.       Macam mikroorganisme penyebab termasuk virus, bakteri, fugus, protozoa, chamydia dan mycoplasma.
b.      Gambaran klinis infeksi pada neonatus tidak khas sehingga sering tidak atau terlambat terdiagnisis.
c.       Beberapa uji labolatorium rutin untuk membantu diagnosis infeksi sering tidak atau terlambat.
d.      Mekanisme daya tahan tubuh neonatus masih imatur sehingga memudahkan invasi mikroorganisme. Oleh karena itu infeksi mudah menjadi berat dan dapat menimbulkan kematian dalam waktu beberapa jam atau beberapa hari tidak mendapat pengobatan yang tepat.
e.       Banyak infeksi bakteri disebabkan oleh mikroorganisme yang reaktif telah resisten terhadap antibiotik.
2.4 Penyebab Infeksi
a.       Infeksi kongenital/bawaan (congenital infection)
Banyak infeksi yang menyerang bayi baru lahir ditularkan dari ibu ke bayi, baik selama kehamilan atau proses persalinan. Umumnya disebabkan virus dan parasit seperti HIV (yang menyebabkan AIDS), rubella, cacar air, sifilis, herpes, toksoplasmosis, dan citomegali virus.
b.   Streptokokus grup B
Streptokokus grup B adalah bakteri yang umum dapat menyebabkan berbagai infeksi pada bayi baru lahir, yaitu sepsis, pneumonia dan meningitis. Bayi umumnya mendapat bakteri dari ibu selama proses kelahiran, banyak perempuan hamil membawa bakteri ini dalam rektum atau vagina. Ibu dapat mentransmisikan bakteri ini kepada bayi mereka jika mereka tidak diobati dengan antibiotik.

c.   Escherichia coli (E.coli)
Escherichia coli (E.coli) adalah bakteri lain sebagai penyebab infeksi pada bayi baru lahir dan dapat mengakibatkan infeksi saluran kemih, sepsis, meningitis dan pneumonia. Setiap orang membawa E.coli di tubuhnya dan bayi dapat terinfeksi dalam proses kelahiran saat bayi melewati jalan lahir atau kontak dengan bakteri tersebut di rumah sakit atau rumah. Bayi baru lahir yang menjadi sakit karena infeksi E.coli memiliki sistem kekebalan tubuh yang belum matang sehingga mereka rentan untuk sakit.
d.   Jamur candida
Pertumbuhan berlebihan dari jamur candida, jamur yang ditemukan pada tubuh setiap orang, dapat mengakibatkan infeksi kandidiasis. Pada bayi baru lahir umumnya berupa ruam popok (diaper rush), dapat juga berupa sariawan (oral thrush) di mulut dan tenggorokan. Infeksi ini menyebabkan luka di sudut mulut dan bercak putih di lidah, langit-langit, bibir dan pipi bagian dalam. Bayi baru lahir seringkali mendapat jamur ini dari vagina ibu dalam proses kelahiran.

2.5 Patofisiologi Infeksi
Reaksi tubuh dapat berupa reaksi lokal dan dapat pula terjadi reaksi umum. Pada infeksi dengan reaksi umum akan melibatkan syaraf dan metabolik, pada saat itu terjadi reaksi ringan limporetikularis di seluruh tubuh, berupa proliferasi sel fagosit dan sel pembuat antibodi (limfosit B). Kemudian reaksi lokal yang disebut inflamasi akut, reaksi ini terus berlangsung selama terjadi proses pengrusakan jaringan oleh trauma.
Bila penyebab pengrusakan jaringan bisa diberantas, maka sisa jaringan yang rusak disebut debris akan difagositosis dan dibuang oleh tubuh sampai terjadi resolusi dan kesembuhan. Bila trauma berlebihan, reaksi sel fagosit kadang berlebihan sehingga debris yang berlebihan terkumpul dalam suatu rongga membentuk abses atau berkumpul di jaringan tubuh yang lain membentuk flegman (peradangan yang luas di jaringan ikat).
Gambaran klinis infeksi pasca bedah adalah Rubor (kemerahan), kalor (demam setempat) akibat vasodilatasi dan tumor (bengkak) karena eksudasi. Ujung syaraf merasa akan terangsang oleh peradangan sehingga terdapat rasa nyeri (dolor). Nyeri dan pembengkan akan mengakibatkan gangguan faal, dan reaksi umum antara lain berupa sakit kepala, demam dan peningkatan denyut jantung.

2.6 Patogenesis Infeksi
Infeksi neonatus dapat melalui beberapa cara dan di bagi dalam 3 golongan yaitu:
  1. Infeksi antenatal
Pada masa antenatal kuman masuk ke tubuh janin melalui peredaran darah ibu ke plasenta dan selanjutnya infeksi melalui serkulasi umbilikalis masuk ke janin.
  1. Infeksi intranatal
Infeksi intranatal lebih sering terjadi dengan cara kuman dari vagina naik dan masuk kedalam rongga amnion setelah ketuban pecah. Pecah ketuban lebih dari 12 jam akan menjadi penyebab timbulnya plasentitis dan amnionitis. Infeksi dapat terjadi walaupun ketuban masih utuh. Misalnya pada partus lama dan sering dilakukan pemeriksaan dalam. Janin terkena infeksi karena inhalasi likuor yang septic sehingga terjadi pneumonia congentinal atau karena kuman memasuki peredaran darahnya dan menyebabkan seplikerta. Infeksi intranatal dapat juga terjadi dengan jalan kontak langsung dengan kuman yang terdapat dalam vagina misalnya blennorhoe.
  1. Infeksi pascanatal
Infeksi terjadi sesudah bayi lahir lengkap, infeksi terjadi akibat penggunaan alat-alat perawatan yang tidak steril, tindakan yang tidak antiseptik, atau dapat juga terjadi akibat infeksi silang, misalnya tetanus neonatorum, omfalitis, dan lain-lain.
2.7 Pencegahan infeksi
  1. Mencuci tangan sampai siku dengan sabun dan air mengalir selama 2 menit sebelum masuk ke tempat rawat bayi.
  2. Mencuci tangan dengan antiseptik atau sabun setiap sebelum dan sesudah memegang seorang bayi.
  3. Melakukan tindakan untuk mengurangi kontaminasi pada makanan bayi dan semua benda yang berhubungan langsung dengan bayi.
  4. Mencegah kontaminasi melalui udara
  5. Mencegah jumlah bayi yang terlalu banyak dalam satu ruangan.
  6. Ada pemisahan di kamar bersalin antara bagian septik dan aseptik.
  7. Di bangsal bayi baru lahir dipisahkan antara partus aseptik dan septik.
  8. Dapur susu harus bersih dan cara mencampur susu harus aseptik, setiap bayi harus mempunyai tempat pakaian sendiri dan inkubator harus selalu dibersihkan, lantai ruangan setiap hari harus dibersihkan dengan antiseptik.
  9. Pemakaian antibiotik dengan indikasi jelas.
  10. Melarang petugas yang menderita infeksi masuk ke tempat bayi dirawat.
Hubungan antara bayi dan keluarga harus tetap dilaksanakan agar perkembangan bayi tidak terganggu. Sedangkan bahaya infeksi dapat dikurangi dengan cara mematuhi peraturan pencegahan infeksi.
2.8 Penatalaksanaan infeksi
a.       Apabila suhu tinggi lakukan kompres dingin
b.      Berikan ASI perlahan lahan sedikit demi sedikit
c.       Apabila bayi muntah lakukan perawatan muntah yaitu posisi tidur miring ke kiri/ ke kanan.
d.      Apabila ada diare perhatikan personal hygiene dan keadaan lingkungan
2.9 Asuhan bidan
a.       Beritahu ibu jika bayi demam, pada dasarnya merupakan reaksi alamiah tubuh terhadap adanya infeksi. Jadi, saat bayinya mengalami infeksi, demam tak perlu ditakuti karena justru itu tanda bahwa mekanisme pertahanan tubuhnya bekerja dengan baik.
b.      Memberitahu ibu untuk segera mengompres bayinya jika suhu tubuh bayi dirasakan telah tinggi.
c.       Jika suhu tubuh bayi setelah dikompres tetap tinggi maka berikan saran kepada ibu untuk membawa bayinya ke tenaga kesehatan untuk ditindaklanjuti.
d.      Rujuk segera ke rumah sakit, jelaskan kepada keluarga bahwa anaknya perlu dirujuk untuk perawatan selanjutnya
e.       Beritahu ibu untuk selalu menjaga kebersihan dirinya, bayinya, dan lingkungannya


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Menurut kamus kedokteran, infeksi merupakan penembusan dan penggandaan di dalam tubuh dari organisme yang hidup ganas seperi bakteri, virus, dan jamur. Penyebab infeksi pada bayi adalah : Infeksi kongenital/bawaan (congenital infection), Streptokokus grup B, Escherichia coli (E.coli), dan jamur candida.

3.2 Saran
Untuk mencegah infeksi pada bayi maka dianjurkan untuk mencuci tangan sampai siku dengan sabun dan air mengalir selama 2 menit sebelum dan sesudah memegang bayi.








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar