Rabu, 23 Maret 2011

Makalah Filsafat Islam terbaru 2011


BAB I
PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang Masalah

Filsafat manusia secara umum bertujuan menyelidiki menginterpretasi dan memahami gejala-gejala atau ekspresi-ekspresi manusia sebagaimana pula halnya dengan ilmu-ilmu tentang manusia. Adapun secara spesifik bermaksud memahami hakikat atau esensi manusia.
Diharapkan dengan filsafat manusia, seseorang akan menyadari dan memahami tentang kompleksitas manusia yang takkan pernah ada habisnya untuk senantiasa dipertanyakan tentang makna dan hakikatnya sejauh “ misteri “ dan “ambiguitas” manusia disadari dan dipahami, seseorang akan menghindari sikap sempit dan tinggi hati.

1.2       Rumusan Masalah

Filsafat berpretensi mengatakan apa yang paling penting bagi manusia para filsuf mengatakan dan menimbulkan berbagai pendapat bagi platon dan platin misalnya, manusia adalah suatu makhluk ilahi. Bagi  epicura dan lekritius sebaliknya manusia yang berumur pendek lahir kebetulan dan tidak berisi apa-apa.
Descartes menggambarkan manusia sebagai terbentuk dari campuran antara dua macam bahan yang terpisah, badan dan jiwa.

1.3       Tujuan Penulisan

                        Penulisan makalah ini bertujuan untuk :
·         Memahami manusia dan hubungannya dengan tuhan dan alam
·         Memahami kesatuan dan kesetaraan manusia
·         Memahami kehendak mutlak dan kebebasan manusia
·         Memahami sunnatullah dan hukum alam

BAB II
PEMBAHASAN


2.1       Manusia dan Hubungannya Dengan Tuhan dan Alam

Manusia mampu mengtahui dirinya dengan kemampuan berpikir yang ada pada dirinya, manusia menghasilkan pertanyaan tentang segala sesuatu, filsafat lahir karena berbagai pertanyaan yang diajukan oleh manusia ketika manusia mulai menanyakan keberadaan dirinya, filsafat manusia lahir dan mempertanyakan “ siapakah kamu manusia? Manusia bisa memikirkan dirinya, tetapi apakah tujuan pertanyaan yang diajukannya. Keberadaan dirinya diantara yang lain yang membuat manusia perlu mendefinisikan keberadaan dirinya.

Individu tidak ditempatkan dihadapan ketiadaan, melainkan dihadapan tuhan, yang harus dipersoalkan terutama subyektifitas dari kebenaran, yaitu bagaimana kebenaran dapat menjelma dalam kehidupan individu, yang penting ialah bahwa aku memahami diriku sendiri, bahwa kulihat dengan jelas apa yang tuhan kehendaki sungguh-sungguh agar aku perbuat, yang terutama kubutuhkan adalah benar untuk aku, suatu ide yang bisa mengilhami kehidupan dan kematianku.
Al-qur’an al-karim dalam kaitannya dengan perkembangan ilmu dan filsafat manusia, dapat disimpulkan mengandung tiga hal pokok :
            Pertama, tujuan :
1)    Akidah atau kepercayaan, yang mencakup kepercayaan kepada :
Ø  Tuhan dengan segala sifat-sifat-Nya
Ø  Wahyu dan segala kaitannya dengan antara lain, kitab-kitab suci, malaikat dan para nabi
Ø  Hari kemudian bersama dengan balasan dan ganjaran Tuhan

2)     Budi pekerti, yang bertujuan mewujudkan keserasian hidup bermasyarakat, dalam bentuk antara lain gotong royong, amanat, kebenaran, kasih sayang, tanggung jawab dan lain-lain.
3)    Hukum-hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, sesamanya, dirinya, dan alam sekitarnya.


2.2       Kesatuan dan Kesetaraan Manusia

Manusia adalah makhluk ganda yang mempunyai pikiran dan badan perluasan. Apa yang kita pikirkan dengan akal kita tidak terjadi didalam badan, itu terjadi didalam pikiran, yang sama sekali tidak tergantung  pada realitas perluasan. Namun Descartes tidak dapat menyangkal bahwa ada interaksi konstan berlangsung antara “roh dan materi”. Pikiran dapat selalu dipengaruhi oleh perasaan dan nafsu yang berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan badaniah.
Apabila ditinjau dari segi dayanya maka jelaslah manusia memilki dua macam daya. disatu pihak manusia memiliki daya untuk mengenal dunia ruhani, yang nous, suatu daya intuitip, yang karena kerjasama dengan akal menjadikan manusia dapat memikirkan serta membicarakan hal-hal yang rohani dilain pihak manusia memiliki daya pengamatan ( aisthesis ), yang karena pengamatan yang langsung yang disertai dengan daya penggambaran atau penggagasan menjadikan manusia memiliki pengetahuan yang berdasarkan pengamatan.
Manusia terdiri dari jiwa dan tubuh, yang keduanya dapat berdiri sendiri –sendiri. Jiwa berada dalam tubuh seperti terkurung dalam penjara dan hanya kematian yang dapat melepaskan belenggu tersebut.

2.3       Kehendak Mutlak dan Kebebasan Manusia

Tujuan kefilsafatan manusia menitik beratkan pada dayanya, manusia sebagai idea, yaitu sebagai manusia yang tak bertubuh. Telah ada kekal sejak logos, jiwa dibedakan antara jiwa sebagai kekuatan hidup ( psuke ) dan jiwa sebagai kekuatan akal ( nous, dianoia, psuke logike ).
Jiwa sebagai kekuatan hidup berada dalam darah dan tidak dapat binasa. Jiwa yang bersifat akali atau nous lebih tinggi tingkatannya karena merupakan jiwa yang bersifat ilahi. Sebelum manusia dilahirkan jiwa ini sudah ada. Jiwa ini tidak dapat binasa ia memasuki tubuh dari luar. Didalam tubuh jiwa itu dipenjara karena itu hidup didunia ini adalah kejahatan. Kematian merupakan wujud suatu kebebasan, dimana manusia orang dibangkitkan kepada hidup yang sejati dan kepada kebebasan.
Hakikat pemikiran para filsuf tentang manusia  pada umumnya mengacu kepada hakikat manusia itu sendiri atau eksistensinya sendiri. Akan tetapi eksistensi bukanlah suatu “ada” melainkan suatu “menjadi”,yang mengandung didalamnya suatu perpindahan, yaitu perpindahan dari “kemungkinan” ke” kenyataan”. Eksistensi manusia adalah suatu eksistensi yang dipilih dalam kebebasan.
2.4       Sunnatullah dan Hukum Alam

Al-Qur’an menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari tanah, kemudian setelah sempurna kejadiannya, Tuhan menghembuskan kepadanya ruh ciptaan-Nya (QS. 38 : 71-72) dengan “tanah” manusia dipengaruhi oleh kekuatan alam seperti makhluk-makhluk lain, sehingga ia butuh makan, minum, hubungan seks dan sebagainya. Dan dengan “ruh” ia diantar kearah tujuan nonmateri yang tak berbobot dan tak bersubstansi dan yang tak dapat diukur dilaboratorium atau bahkan dikenal oleh alam material.
Filsafat materialisme dengan aneka ragam panoramanya berbicara tentang manusia dan demikian pula Al-Qur’an.  Keduanya telah menjelaskan pandangannya. Keduanya telah mengajak manusia untuk menemukan dirinya tapi yang pertama berusaha untuk menyeretnya kedebu tanah dari ruh tuhan, sedangkan Al-Qur’an mengajaknya untuk meningkat dari debu tanah menuju Tuhan Yang Maha Esa.

BAB III
PENUTUP


3.1       Kesimpulan

Filsafat manusia perlu dipelajari karena manusia adalah makhluk yang mempunyai hak istimewa dari sampai batas tertentu memiliki tugas menyelidiki hal-hal secara mendalam, manusia dapat mengatur dirinya untuk dapat membedakan apa yang baik dan buruk baginya yang harus diperoleh dari hakikat diri manusia.
Filsafat materialisme dengan  aneka ragam panoramanya berbicara tentang manusia. Dan demikian pula Al-Qur’an keduanya  telah menjelaskan pandangannya. Keduanya telah mengajak manusia untuk menemukan dirinya, tapi yang pertama berusaha untuk menyeretnya kedebu tanah dari runtuhan. Sedangkan Al-Qur’an mengajaknya untuk meningkat dari debu tanah menuju Tuhan Yang Maha Esa.

 DAFTAR PUSTAKA

§  Kiese, B. Moral Sosial : Keterlibatan umat dalam hidup  bermasyarakat, Yogyakarta : Kanisius, 1987
§  Banawiratma, J.B ( ed ). Aspek-aspek teologi sosial, Yogyakarta : Kanisius, 1988
§  Sabrino. J dan Hernandez Pico,J. Teologi Solidaritas, Yogyakarta : Kanisius, 1989
htthttp:diarrheamedicines.com/filsafat islam


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar